Surat Kabar Online, Amanah Anak Negeri, 

'Briptu Rani harus ungkap atasan yang lakukan pelecehan seksual'

briptu rani. ©Istimewa



Senin, 27 Mei 2013 



Sudah lebih tiga bulan polwan cantik Briptu Rani Indah Yuni Nugraeni tidak masuk kerja. Oleh institusinya, polisi yang bertugas di Polres Mojokerto itu masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Dikabarkan, dara berusia 24 tahun ini menghilang karena sudah bosan dengan perilaku tidak senonoh yang kerap dilakukan oleh Kapolres Mojokerto terhadap dirinya. Namun, tindakan Rani yang tak kunjung muncul justru dinilai sebagai sebuah keputusan yang semakin memperburuk keadaan.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mengatakan, tidak semestinya seorang Briptu Rani justru kabur dari masalah. Meskipun, pelecehan seksual merupakan isu yang sensitif dan butuh waktu bagi korban.

Neta menuturkan, Rani harus segera muncul kepermukaan untuk menjelaskan duduk perkara yang saat ini sedang menimpa dirinya. Untuk menjamin keselamatan, dia pun meminta agar Rani diberikan perlindungan khusus.

"Seharusnya Briptu Rani segera muncul dan menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya. Namun harus ada perlindungan terhadap yang bersangkutan. Bagaimana pun kasus pelecehan seksual selalu membuat trauma bagi korbannya. Namun kasus ini harus diselesaikan secara tuntas," kata Neta, Minggu (26/5).

Neta menilai, jika tak kunjung muncul, Rani justru yang akan dituding hanya sekadar ingin mencari sensasi. Padahal, kata dia, sesungguhnya Rani menjadi korban.

"Untuk itulah Rani harus segera muncul dan menjelaskan persoalan yang ada," katanya.

Selanjutnya, Neta menambahkan, untuk kemudian dikonfrontir benar atau tidaknya bahwa Rani sering di ajak ke tempat karaoke oleh atasannya.

"Jika benar, Kapolres tersebut harus ditindak. Sebab sangat tidak pantas jika Kapolres membawa polwannya ke karaoke, sebab hal itu tidak berkaitan dengan tugas-tugas Polri," tandasnya.

Diketahui, setelah lama menghilang dan menjadi pergunjingan, pernyataan mengejutkan datang dari keluarga Rani. Ibunda Rani, Raya Situmeang mengungkap, anaknya telah diperlakukan tidak senonoh oleh Kapolres Mojokerto. Termasuk ketidaksenangan AKP L kepada Briptu Rani.

Raya menuding Kapolres Mojokerto AKBP Eko Puji Nugroho telah memerintahkan anaknya untuk melayani tamu-tamunya karaoke dan menyita handphone milik anaknya.

Tak berhenti di situ, Raya juga menyatakan, kapolres pernah meraba tubuh anaknya saat pengukuran seragam, yang mestinya dilakukan oleh seorang tukang jahit.


Ibunda: Briptu Rani ada di Jakarta, sedang depresi


Sabtu, 25 Mei 2013


25 April lalu pihak kepolisian menetapkan status DPO alias buron kepada polwan cantik, Briptu Rani Indah Yuni Nugraeni. Ibunda Rani, Raya Situmeang, berang dengan status tersebut.

Dia menegaskan bahwa putrinya itu bukan penjahat hingga harus dinyatakan buron. "Saya jamin anak saya ada, dan sekarang berada di Jakarta bersama om nya," kata Ibu Rani, Raya Situmeang, kepada merdeka.com di kediamannya di bilangan Pasanggrahan, Ujung Berung, Bandung, Sabtu (25/5).

Menurutnya, sejak kabur dari Polres Mojokerto Januari lalu tempatnya berdinas, Rani kerap depresi. Perempuan 25 tahun itu sulit untuk bersosialisasi.

"Saya sering kontak-kontakan, menanyakan sudah minum obat belum, gimana perkembangannya," kisah Raya.

Dia meminta polisi mencabut status DPO terhadap putri sulungnya itu. Kalau pun ada yang ingin menemui, ia siap menerimanya.

"Saya bawa anak saya ke rumah kalau Pak Polisi memang mau bertemu," tegasnya.

Menurut Raya, Rani kabur lantaran ulah Kapolres Mojokerto yang suka memperlakukan bawahan seenaknya. Bahkan pelecehan seksual pun kerap dilakukan kepada Rani.

"Anak saya malah disuruh menemani teman-temannya untuk karaoke," ujarnya. Rani tak terima, sehingga dia pilih melarikan diri.

Polda Jatim memberikan tanggapan tentang berbagai informasi penyebab kaburnya Briptu Rani. "Kami melakukan penyelidikan terkait adanya laporan tersebut. Termasuk ungkapan adanya pelecehan seksual, penggelapan uang dan sebagainya. Kami masih dilakukan pencarian keterangan serta bukti-bukti masalah tersebut," tandas Kasubdit Penmas Bid Humas Polda Jawa Timur, AKBP Suhartoyo.

Polda Jawa Timur menurunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan. "Tim dari Propam Polda Jatim sudah kita turunkan ke Mojokerto untuk melakukan pulbaket (pengumpulan bahan dan keterangan). Tim khusus Polda Jatim itu sudah diberangkatkan ke sana sejak pagi tadi (Rabu, 22/5)," ungkap AKBP Suhartoyo.

Dijelaskan Suhartoyo, di Mojokerto, tim Propam Polda Jawa Timur itu melakukan sejumlah pengumpulan data dan informasi. "Termasuk menggali informasi dari internal Polres Mojokerto, maupun dari pihak-pihak lain yang terlibat."

Seperti diberitakan, pasca vonis hukuman khusus selama 21 hari dalam sidang kode etik di Polres Mojokerto pada 16 Januari lalu, karena desersi (tidak masuk tanpa izin), Briptu Rani tiba-tiba menghilang. Sampai akhirnya pada 25 April, pihak kepolisian menetapkan ibu satu anak itu sebagai DPO alias buron. Kemudian pada tanggal 15 Mei, Briptu Rani mendatangi Mabes Polri untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya dari kesatuan.

Selanjutnya, berbagai informasi miring seputar kehidupan polwan cantik itu terus berkembang hingga saat ini.


Ibunda: Briptu Rani dimusuhi atasan karena penampilan


Sabtu, 25 Mei 2013


Selain mengalami pelecehan seksual dan upaya eksploitasi oleh atasannya, Briptu Rani Indah Yuni Nugraeni juga kerap mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan di tempatnya bekerja, Polres Mojokerto, Jawa Timur.

Perempuan 25 tahun itu sering dimusuhi oleh atasannya di lingkungan Mapolres Mojokerto. Atasan Rani itu perempuan berinisial LI berpangkat AKP.

"Jadi memang atasan anak saya itu sering diperlakukan tidak enak oleh LI," ucap ibunda Rani, Raya Situmeang, kepada merdeka.com, di kediamannya bilangan Pasanggrahan, Ujung Berung, Bandung, Sabtu (25/5).

Entah apa maksud dari perilaku LI, namun diakui Raya, bahwa Rani kerap menjadi omongan lantaran penampilannya. Menurutnya, Rani selalu berupaya tampil serapi mungkin.

"Mungkin karena persaingan penampilan. Masak atasannya pernah bilang 'dasar lo so cantik. Ga perlu banyak penampilan. Dasar kamu tukang morotin lagi'," terangnya.

Namun dia menepis keseharian Rani yang glamor. "Ga sama sekali, kita lahir dari keluarga sederhana, motor aja kita kredit di Bandung untuk dipakai Rani dinas," paparnya.

Raya menyayangkan ulah Kapolres Mojokerto dan LI yang memperlakukan anak buah seenaknya. Padahal perempuan kelahiran Bogor itu ingin bisa melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.

"Anak saya kabur karena sudah tidak nyaman," ujarnya.

Itu juga sekaligus menepis bahwa Rani membawa kabur sejumlah uang. "Tidak benar itu. Sekarang anak saya depresi berat dan belum bisa melakukan aktivitas normal," tandasnya.

Polda Jatim memberikan tanggapan tentang berbagai informasi penyebab kaburnya Briptu Rani. "Kami melakukan penyelidikan terkait adanya laporan tersebut. Termasuk ungkapan adanya pelecehan seksual, penggelapan uang dan sebagainya. Kami masih dilakukan pencarian keterangan serta bukti-bukti masalah tersebut," tandas Kasubdit Penmas Bid Humas Polda Jawa Timur, AKBP Suhartoyo.

Polda Jawa Timur menurunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan. "Tim dari Propam Polda Jatim sudah kita turunkan ke Mojokerto untuk melakukan pulbaket (pengumpulan bahan dan keterangan). Tim khusus Polda Jatim itu sudah diberangkatkan ke sana sejak pagi tadi (Rabu, 22/5)," ungkap AKBP Suhartoyo.

Dijelaskan Suhartoyo, di Mojokerto, tim Propam Polda Jawa Timur itu melakukan sejumlah pengumpulan data dan informasi. "Termasuk menggali informasi dari internal Polres Mojokerto, maupun dari pihak-pihak lain yang terlibat."

Seperti diberitakan, pasca vonis hukuman khusus selama 21 hari dalam sidang kode etik di Polres Mojokerto pada 16 Januari lalu, karena desersi (tidak masuk tanpa izin), Briptu Rani tiba-tiba menghilang. Sampai akhirnya pada 25 April, pihak kepolisian menetapkan ibu satu anak itu sebagai DPO alias buron. Kemudian pada tanggal 15 Mei, Briptu Rani mendatangi Mabes Polri untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya dari kesatuan.


Ibunda Briptu Rani tuding anaknya dilecehkan, polisi bungkam


Senin, 27 Mei 2013


Polisi yang telah menurunkan tim khusus dari Bid Bropam masih enggan membeberkan perkembangan penyelidikan kasus Briptu Rani Indah Yuni Nugraeni. Rani menghilang setelah dihukum 21 hari karena desersi.

Informasi perkembangan kasus penetapan status DPO terhadap Briptu Rani terus bergulir, mulai dari isu foto-foto panas yang beredar di internet, hingga kasus pelecehan seksual.

Terbaru, keluarga polwan kelahiran Bogor, 18 Juni 1988 silam itu, telah membeberkan penyebab kaburnya Briptu Rani selama tiga bulan pasca putusan sidang kode etik yang digelar di Polres Mojokerto Januari lalu itu.

Ibunda Briptu Rani, Raya Situmeang mengungkap, anaknya telah diperlakukan tidak senonoh oleh Kapolres Mojokerto. Termasuk ketidaksenangan AKP L kepada Briptu Rani.

Raya menuding Kapolres Mojokerto AKBP Eko Puji Nugroho telah memerintahkan anaknya untuk melayani tamu-tamunya karaoke dan menyita handphone milik anaknya.

Tak berhenti di situ, Raya juga mengungkap, kapolres juga pernah meraba tubuh anaknya saat pengukuran seragam, yang mestinya dilakukan oleh seorang tukang jahit.

Namun, terkait tudingan yang mengarah ke Kapolres Mojokerto ini, tak satu pun ada konfirmasi dari pihak kepolisian di Jawa Timur terkait kebenaran cerita istri Kapolsek Cibeuyeng Kaler, Kota Bandung, Kompol Maedi itu.

Kasubdit Penmas Bid Humas Polda Jawa Timur, AKBP Suhartoyo memilih bungkam, meski hanya menceritakan perkembangan penyelidikan tim dari Bid Propam Polda Jawa Timur ke Polres Mojokerto yang dilakukan pada Rabu lalu.

"Tak ada statemen apa-apa soal Rani. Silakan menulis apa saja soal Rani. Saat ini tak ada komentar apa-pun soal itu," kata dia singkat.

Kapolres Mojokerto AKBP Eko Puji Nugroho saat menghadiri acara launching program COP yang digelar Polrestabes Surabaya di Empire Palace, pada Kamis lalu, juga bungkam. "Kita ke kantor (Polres Mojokerto) sajalah," katanya singkat kepada wartawan di Surabaya.


Pengakuan mengejutkan ibunda Briptu Rani


Minggu, 26 Mei 2013


Briptu Rani Indah Yuni Nugraeni, polwan cantik yang berdinas di Polres Mojokerto, sudah tiga bulan menghilang dan tidak berdinas di tempatnya bekerja. Rani kabur lantaran tidak nyaman dengan situasi tempatnya bekerja. Rani pun dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kaburnya Rani membuat isu miring menerpanya. Rani bahkan digosipkan sebagai wanita nakal. Benarkah?

Semua gosip dan isu seputar Rani dibantah oleh sang Ibu, Raya Situmeang. Raya pun blak-blakan mengenai alasannya putrinya akhir kabur dari tempatnya bertugas di Polres Mojokerto.

Berikut pengakuan mengejutkan Ibunda Rani seputar kasus yang menimpa putrinya itu :


1.       Rani dipaksa menemani karaoke teman Kapolres


Raya Situmeang menyebut anaknya tidak betah ditempatkan di Polres Mojokerto. Hal ini karena Rani selalu dieksploitasi oleh atasannya, Kapolres Mojokerto. Bahkan Rani kerap diminta menemani karaoke teman-teman Kapolres.

"Anak saya pulang sampai larut malam, padahal besok paginya harus sudah berdinas lagi, satu sisi anak saya ingin menolak dan melawan, tapi itu adalah atasannya," terang Raya yang tak kuasa menahan sedihnya.

Kapolres Mojokerto pun menurutnya suka mengancam bahkan menyita ponsel-nya untuk dijadikan jaminan, bahwa Briptu Rani benar-benar mau menemani teman-temannya.

"Temennya (Kapolres) banyak, Rani disuruh menemani karaoke," imbuh Raya yang sesekali tampak berkaca-kaca.


2. Rani dilecehkan Kapolres


Ibunda Briptu Rani, Raya Situmeang membeberkan alasan putrinya kabur dari tugas tiga bulan terakhir di Polres Mojokerto. Bercerita dengan sesekali matanya tampak berkaca-kaca, Raya Situmeang mengungkapkan perlakuan buruk atasan putrinya selama bertugas.

Menurut Raya, Briptu Rani sering diminta menemani karaoke rekan Kapolres. Kekesalan gadis 25 tahun itu memuncak tepatnya tiga bulan. Rani yang geram dengan ulah atasannya memutuskan untuk tidak kembali ke kesatuannya itu.

"Benar Rani saat itu kabur ke Bandung, karena memang sudah kesal," jelasnya.

Ulah nakal oknum Kapolres Mojokerto tak cuma sampai di situ. Rani yang merupakan ajudannya pernah diperlakukan tidak senonoh. Kata Raya, Saat mengukur baju dinas, Kapolres tiba-tiba ingin mengukur dan menempelkan tangan ke badannya.

"Di situ dia juga sempat memegang bagian tubuh Rani," jelasnya.


3.       Rani berada di Jakarta dan depresi


25 April lalu pihak kepolisian menetapkan status DPO alias buron kepada polwan cantik, Briptu Rani Indah Yuni Nugraeni. Ibunda Rani, Raya Situmeang, berang dengan status tersebut.

Dia menegaskan bahwa putrinya itu bukan penjahat hingga harus dinyatakan buron. "Saya jamin anak saya ada, dan sekarang berada di Jakarta bersama om nya," kata Ibu Rani, Raya Situmeang, kepada merdeka.com di kediamannya di bilangan Pasanggrahan, Ujung Berung, Bandung, Sabtu (25/5).

Menurutnya, sejak kabur dari Polres Mojokerto Januari lalu tempatnya berdinas, Rani kerap depresi. Perempuan 25 tahun itu sulit untuk bersosialisasi.

"Saya sering kontak-kontakan, menanyakan sudah minum obat belum, gimana perkembangannya," kisah Raya.

Dia meminta polisi mencabut status DPO terhadap putri sulungnya itu. Kalau pun ada yang ingin menemui, ia siap menerimanya.


4.       Ibunda sebut foto hot yang beredar bukan Rani

Ibunda Briptu Rani tidak tahu menahu soal foto hot yang beredar di dunia maya. Namun dia memastikan bahwa foto seorang perempuan yang mengenakan pakaian dalam itu bukan murni perbuatan putrinya.

"Yang saya tahu anak saya tidak mungkin melakukan perbuatan itu. Bohongan itu," kata Ibunda Rani, Raya Boru Situmeang, kepada merdeka.com, di kediamannya, di bilangan Pasanggrahan, Ujung Berung, Bandung, Sabtu (25/5).

Foto itu memang telah beredar luas di BlackBerry Messanger. Foto-foto itu juga menyebar melalui jejaring sosial. Tampak seorang perempuan berfoto setengah badan, memang mirip anggota Polres Mojokerto itu. Perempuan berkulit putih itu menebar senyum. Diduga foto diambil seorang diri.

"Saya ga tahu lah, saya ga mau bicara banyak, tapi itu bisa saja perbuatan orang jahil," paparnya.

Sumber :  merdeka.com


Berita lainnya tentang Nasional

Diberdayakan oleh Blogger.