Surat Kabar Online, Amanah Anak Negeri, 

Lima Dalang Indonesia Ikuti Festival Wayang di Cina

Pertunjukan wayang kulit (ilustrasi)/ Antara/Septianda Perdana



Kamis, 29 Mei 2014, 
Amanahanaknegeri.com, Gianyar, Lima dalang wayang tradisional yang menetap di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, mengikuti Festival Wayang Internasional di Nanchong, Cina, pada 31 Mei-7 Juni 2014. "Festival wayang di Cina itu akan diikuti dalang dari seluruh dunia," kata I Wayan Tunjung mewakili empat rekan dalang lainnya di Gianyar, Kamis (29/5).

Ia bersama I Gede Suartana, I Nyoman Karang Mustika, I Komang Sudiarsa, dan Jennifer Goodlander akan membawakan lakon Mahabarata dan Ramayana dalam festival tersebut. Jennifer adalah seorang profesor di bidang teater dan drama dari Indiana University, Amerika Serikat, yang sejak 2008 tinggal dan menetap di Ubud untuk belajar pedalangan.

Wayan Tunjung menganggap festival internasional tersebut sebagai upaya memperkenalkan budaya tradisional yang mulai terpinggirkan. "Minat generasi muda terhadap seni pertunjukan wayang semakin rendah. Padahal wayang sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai WBD (warisan budaya dunia)," ujarnya.

Menurut dia, perlu terobosan dan strategi agar kaum generasi muda kembali tertarik pada wayang. "Salah satunya mungkin dengan menyelipkan pelajaran pewayangan ke sekolah," katanya.







Sumber :  republika.co.id
Kamis, Mei 29, 2014 | 0 komentar

Potret Para Mualaf

Mualaf (ilustrasi)/Rakhmawaty La'lang/Republika


Rabu, 21 Mei 2014,    
Vanesaa Vroon-Najem berhasil memenuhi keinginannya. Sebuah pameran yang ia rancang akhirnya terwujud. Pameran di Museum Amsterdam, Belanda, itu menggambarkan tentang meningkatnya jumlah mualaf dan kehidupan mereka.

Pameran sudah berjalan mulai 11 April lalu hingga 27 Juli 2014 mendatang. Pameran bertema Converted. Becoming Muslim – being Muslim itu merujuk pada penelitian Najem untuk program PhD-nya. Ia seorang antropolog yang memeluk Islam pada 1996.

Sejak pertama melakukan penelitian, ia ingin mengomunikasikannya kepada banyak orang. ‘’Saya juga ingin menyampaikan informasi lebih baik mengenai perkembangan Islam di Belanda,’’ kata Najem seperti dikutip laman berita Onislam, Ahad (18/5) lalu.

Jumlah orang yang memutuskan menjadi mualaf telah melebihi 15 ribu orang. Perempuan yang sudah bekerja di Museum Amsterdam sejak 1999 itu juga menggandeng mualaf perempuan lainnya, Saskia Aukema. Ia seorang fotografer.

Najem mengakui, proposal pameran yang diajukan ke museum diterima dengan baik karena didukung foto-foto bagus Aukema. Dan sebenarnya, Aukema pun sudah berencana untuk memamerkan foto-foto tentang mualaf.

Menurut Najem, pameran seperti ini dapat menunjukkan wajah Muslim yang damai. Bukan kelompok-kelompok radikal yang biasa ditampilkan di media. ‘’Banyak orang menggunakan istilah ‘kami’ dan mereka saat berbicara tentang Islam,’’ katanya.

Namun, Najem meyakini melalui pameran prasangka terhadap Islam dan Muslim bisa perlahan memudar. Menurut Aukema, ia menyiapkan proyek pameran ini selama enam bulan. Selain itu, Najem dan Aukema juga akan menerbitkan buku yang ditulis bersama berjudul Converted.

Menurut Noureddine Steenvoorden, seorang mualaf, pameran di Museum Amsterdam bertujuan memperkaya pengetahuan warga Belanda mengenai perkembangan sosial. Maksudnya, semakin banyak orang yang berpindah agama ke Islam.

Tak hanya itu, ia berharap pula terhapusnya prasangka buruk warga terhadap Muslim dan para mualaf. Ia membantu memasang pengumuman terkait pameran. Ia juga mengunjungi komunitas Muslim agar tertarik pergi ke Museum Amsterdam.

Ia mengajak Aukema ke masjid-masjid untuk memotret kegiatan komunitas Muslim dan mualaf. ‘’Dia ingin memberikan pandangan yang tak bias terhadap mualaf dan bagaimana mereka menunaikan ibadah sehari-hari,’’ kata Steenvoorden.

Saskia Aukema mengungkapkan pengalamannya saat bertemu dengan para mualaf dan kemudian memotretnya. Menurut dia, upaya meningkatkan hubungan anak-anak muda mualaf dengan orang tuanya menjadi topik utama bagi mereka.

Aukema mencoba menangkap fenomena ini melalui lensa kameranya. Salah satunya, ujar dia, seorang perempuan mualaf berbincang bersama ibunya dengan penuh kasih sayang.





Sumber : republika.co.id
Rabu, Mei 21, 2014 | 0 komentar

Sempat Tak Percaya Tuhan, Agnes Temukan Kedamaian pada Islam

mualaf (ilustrasi)/onislam.net

Jumat, 16 Mei 2014,
Amanahanaknegeri.com, Sempat menantang tuhan untuk menampakkan diri, Agnes Purwanti (27 tahun) harus kecewa karena itu tak terjadi. Ia merasa butuh tatap muka langsung dengan tuhan karena segala pertanyaan soal agama yang dianutnya tak pernah dijawab oleh pendeta dan gereja.

Ia sempat memutuskan tidak percaya tuhan meski tetap pergi ke gereja dengan hati hampa. Memasuki dunia kampus pada 2004 dan berhenti taat beragama. Protes terhadap tuhan masih dia lancarkan dengan cara nakal.

Ia berubah untuk menguji tuhan apakah masih peduli padanya. Setahun kemudian, ia memutuskan hidup sendiri dengan penghasilan dari aneka pekerjaan halal dan nyaris haram.

Ia akhirnya berhenti ke gereja pada 2007 dan mulai mendalami Hindu. Tak cocok, ia mundur juga dan mulai mendalami Buddha. Menjadi vegetarian dan mulai memperbaiki jalan hidup ternyata tak juga menghadirkan makna dalam hidupnya.

Meski kecewa berkali-kali, ia masih berkeyakinan menyembah tuhan yang benar melalui agama. Meski awalnya mengaku sempat benci dan terpaksa, Agnes akhirnya melirik Islam.

Namun ia mendapat pencerahan dan mengalami perubahan dalam hidup. Liku-liku hidup ternyata bisa dihadapinya karena sebuah perubahan kecil yang tak ia sangka. Ia pun menemukan kedamaian hidup saat mempelajari Islam.






Sumber : republika.co.id
Jumat, Mei 16, 2014 | 0 komentar

Remaja Pembenci Penumpang Hamil Dikecam

Screenshot Path/Kompas.com

Kamis, 17 April 2014,

Amanahanaknegeri.com, Jakarta, Screenshot media social pemilik akun Path Dinda kembali beredar. Kali ini, pernyataan maaf dari "Dinda" atas kecamannya kepada ibu hamil yang meminta kursinya di KRL.
Dalam screenshot itu, tampak satu postingan dari perempuan bernama Ranny yang mengkritisi postingan Dinda sebelumnya. Ranny menandai Dinda dalam postingan tersebut.

Hallo mba dinda.. Cuma mau bilang semoga Tuhan mengampuni segala dosa2 anda. Masih dikasih kesempatan dengan diberi keturunan nantinya. Dan smoga ketika anda hamil nanti anda sudah menjadi orang kaya, mapan, dan cukup uang untuk membeli kendaraan pribadi sendiri jd udah gak perlu sakit2 kakinya jalan pagi2 buta buat dapet duduk dikereta. 

Menyedihkan sekali ketika anda mendadak menjadi hits dengan statement tidak bermoral anda itu. Semoga postingan anda itu bukan hanya krn PMS atau kegalauan anak alay semata ya mbak yah.

Terimakasih karena anda telah berhasil membuat para ibu, perempuan yg punya hati bersedih dan emosi akan hal ini. Dan semoga Tuhan menyadarkan anda agar bias lebih bermoral dan mempunyai empati lebih. Sekian.

Postingan tersebut mengundang komentar dari Dinda pribadi. Dinda mengaku khilaf dan meminta maaf kepada Ranny dan pria lain bernama Yoga yang juga berkomentar di postingan tersebut. Tidak hanya itu, Dinda juga meminta maaf kepada seluruh masyarakat.

maaf mas yogi dan mbak rani saya ingin minta maaf sekali lagi atas perkataan yang tidak berkenan.. memang saya khilaf sekali.. dan ini semua menjadi pelajaran dari hidup saya.. saya berharap mbak dan mas bias memafkan saya begitu juga dengan org diluar sanaa.. sekali lg saya minta maaff yaa mbak dan mas.

Melihat komentar Dinda, si pembuat postingan, Ranny, kembali menasihati Dinda untuk lebih berhati-hati dalam berbuat.

Sebelumnya, screenshot pemilik akun Path Dinda dicaci maki di jejaring sosial karena kecaman kepada ibu hamil di kereta api yang tiba-tiba meminta tempat duduk.

Benci sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk. Ya gue tahu lw hamil tapi plis dong berangkat pagi. Ke stasiun yang jauh sekalian biar dapat duduk, gue aja enggak hamil bela-belain berangkat pagi demi dapat tempat duduk. Dasar emang enggak mau susah.. ckckck.. nyusahin orang. kalau enggak mau susah enggak usah kerja bu di rumah saja. mentang-mentang hamil maunya dingertiin terus. Tapi sendirinya enggak mau usaha.. cape dehh," tulis wanita itu yang bertagar #notetomyselfjgnnyusahinorg!!.



Sumber :  pekanbaru.tribunnews.com
Kamis, April 17, 2014 | 0 komentar

Hari Ini Pemkab Pelalawan Gelar Audisi Film Kamu dan Bono

Poster film Kamu dan Bono/goriau.com

Minggu, 13 April 2014,

Amanahanaknegeri.com, Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Riau, segera merilis dan menayangkan film berjudul "Kamu dan Bono" yang mengisahkan kecintaan terhadap budaya dan keajaiban alam.

"Besok (hari ini, 13/4) kami akan menggelar audisi atas film tersebut," kata Kepala Dinas Kebudaayan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Pelalawan, Zulkifli lewat pesan elektronik yang diterima, Sabtu (12/4).

Ia mengatakan, audisi akan dilakukan untuk para pemain pendukung yang diharapkan dari kalangan muda Riau, khususnya Pelalawan.

Pihaknya mengharapkan peran serta para pelajar dan mahasiswa untuk menyalurkan bakat akting ke dalam seni perfilman tanah air dan daerah.

"Memang sejauh ini sudah ada cukup banyak siswa dan siswi yang telah mengambil formulir audisi. Harapan kami akan lebih banyak lagi," katanya.

Ia mengatakan, secara karakteristik film ini adalah film komersil yang akan ditayangkan di Cineplex 21, tentunya akan mendatangkan kebanggaan tersendiri.

"Jadi jika memiliki bakat, jangan sampai ketinggalan dan menyia-nyiakan kesempatan ini," kata Zulkifli.
Ia menjelaskan, untuk pemain pendukung spesifikasi yang dibutuhkan adalah laki-laki dan perempuan yang memiliki wajah menarik dengan umur 12-40 tahun, bisa akting, berkarakter dan penuh.

"Sedangkan untuk peran yang dibutuhkan adalah peran sebagai tokoh anak dengan usia 12-17 tahun, tokoh masyarakat dengan usia 18-30 tahun, tokoh pemuda/pemudi dengan usia 18-30 tahun dan tokoh warga/kerabat dengan usia 20-40 tahun. Untuk audisinya sendiri direncanakan akan dilaksanakan di Kantor Disbudpora, Ahad (13/4)," katanya.






Sumber : republika.co.id
Minggu, April 13, 2014 | 0 komentar

Tradisi Halloween Tanggal 31 Oktober dan Asal Usulnya





Senin, 28 Oktober 2013,


Amanahanaknegeri.com, Tanggal 31 Oktober sering kali dikenal dengan perayaan hari Halloween atau Hallowe'en. Perayaan ini sering kali dilakukan oleh orang-orang di kawasan Amerika Serikat. Dalam perayaan ini masyarakat saling mengenakan kostum seram dengan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga sambil berteriak "Trick or Treat", teriakan tersebut adalah sebuah ungkapan "ancaman" yang berarti "Beri kami atau kami jahili". Mereka meminta permen atau cokelat dan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak. Namun ketika mereka tidak mendapatkan sesuatu, mereka akan menjahili rumah-rumah orang yang pelit dengan mencoret-coret jendela rumah dengan sabun atau meletakkan tisu-tisu toilet di pohon depan rumah.

Perayaan Halloween ini identik dengan penyihir, setan, hantu goblin atau makhluk-makhluk halus yang menyeramkan lainnya dari kebudayaan Barat. Simbol Halloween yang sering kali dibuat icon adalah sebuah labu yang dibentuk menyerupai wajah yang sangat menyeramkan. Biasanya orang-orang membuatnya berupa lentera dengan meletakkan lilin di dalamnya sehingga nampak lebih menyeramkan.

Asal Usul Halloween.

Memang perayaan Halloween lebih sering dilakukan oleh warga Amerika Serikat, namun budaya ini ternyata dibawa dari Irlandia. Dari tangan orang Irlandia yang melakukan migrasi ke Amerika Utara membuat perayaan festival Halloween ini berkembang di tanah Amerika.

Pada mulanya Halloween sendiri adalah berupa festival Smhain (baca samain), sebuah tradisi kuno yang dirayakan oleh bangsa Kelt. Festival ini dilakukan setiap kali akhir musim panen yang diperoleh dari kebudayaan orang Gael. Sebelum perayaan festival ini, orang Gael selalu menyembelih hewan ternak mereka dan menyimpan makanan mereka dengan cara dikubur atau disimpan di rumah bawah tanah untuk persiapan bekal bahan makanan di musim dingin nanti. Mereka percaya pada tanggal 21 Oktober adalah sebuah momentum dimana batas antara dunia orang mati dan dunia orang hidup sedang terbuka lebar, maka dari itu mereka sangat percaya bahwa dunia orang mati sangat merugikan dunia orang hidup karena dari dunia orang mati mereka membawa berbagai penyakit dan perusakan hasil panen. Malam 31 atau malam perayaan, bangsa Gael menyalakan api unggun dan membakar tulang-tulang binatang hasil sembelihan mereka.

Selain itu orang-orang Gael mengenakan kostum seram berupa topeng atau sejenisnya yang menggambarkan arwah-arwah jahat agar arwah jahat yang sebenarnya mengira bahwa mereka adalah bagian dari mereka sehingga orang Gael mencoba untuk berdamai dengan para arwah jahat.

Halloween ini berasal dari dua suku kata yaitu All Hallows' Even. Sebuah perayaan jelang hari raya All Hallow yang disebut sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saint Holy Day). Dalam mitos Kristen minoritas, Hari Raya Semua Orang Kudus ini ditentukan oleh mereka yang memeng bertepatan dengan alasan orang pegan ingin mencapai agama Kristen. Day of the Dead, dimana mereka berbondong-bondong merayakan kedatangan arwah keluarga mereka kembali ke bumi sampai saat ini. Hal ini juga masih dilestarikan kebudayaanya oleh orang-orang Brazil, China, Meksiko, dan Filiphina.

Simbol Halloween.

Perayaan Halloween ini memiliki simbol khusus yang memang dikenal oleh banyak orang. Sebuah labu yang diukir menyerupai wajah yang menyeramkan. Simbol ini disebut dengan Jack-o'-lantern. Karena pada bentuk labu yang diukir menyerupai wajah seram ini ditambahkan dengan lilin di dalamnya sehingga bentuk labu terlihat lebih seram lagi apalagi jika diletakkan di tempat yang cukup gelap.



Jack o' Lantern - Simbol Halloween berbentuk labu seram


Tradisi pengukiran labu sendiri berasal dari Amerika Utara yang memang kawasan tersebut lebih banyak menghasilkan labu dengan ukuran yang cukup besar. Namun di daerah lain seperti kawasan bumi yang beriklim sejuk. Perayaan Halloween berlangsung di musim apel karena memang makanan kesukaan Halloween yang terkenal adalah buah apel karamel, sebuah apel yang dicelupkan ke dalam cairan gula. Selain itu makanan Halloween yang terkenal lainnya adalah sari buah apel (minuman cider), pai labu, candy apple, candy corn, bonfire toffe, dan permen-permen yang dibungkus dengan warna Hallowen.







Sumber  :  nemukabar.blogspot.com
Senin, Oktober 28, 2013 | 0 komentar

Helsinki, Ibu Kota Finlandia Ini Mendapat Predikat Sebagai Kota Terjujur Sedunia





Senin, 28 Oktober 2013,


Amanahanaknegeri.com, Helsinki, ibu kota sekaligus salah satu kota terbesar di Finlandia kini miliki julukan sebagai kota paling jujur di dunia. Tahukah Anda, jika dari 12 dompet yang hilang atau terjatuh di Helsinki, 11 diantaranya pasti kembali ke pemiliknya.

Berdasarkan survei dari Reader’s Digest, predikat ini diberikan ke kota di dataranSkandinavia itu. Namun bukan Helsinki saja yang peroleh predikat sebagai  kota paling jujur di muka bumi, ada 15 kota lain yang mendapatkannya.

Berikut daftar 16 kota paling jujur di dunia menurut Reader’s Digest yang dikutip dari Daily Mail:

Helsinki, Finlandia – 11 dompet kembali.
Mumbai, India – 9 dompet kembali.
Budapest, Hungaria – 8 dompet kembali.
New York City, AS – 8 dompet kembali.
Moscow, Russia – 7 dompet kembali.
Amsterdam, Belanda – 7 dompet kembali.
Berlin, Jerman – 6 dompet kembali.
Ljubljana, Slovenia – 6 dompet kembali.
London, UK – 5 dompet kembali.
Warsawa, Polandia – 5 dompet kembali.
Bucharest, Rumania – 4 dompet kembali.
Rio de Janeiro, Brazil – 4 dompet kembali.
Zurich, Swiss – 4 dompet kembali.
Prague, Republik Ceko – 3 dompet kembali.
Madrid, Spanyol – 2 dompet kembali.
Lisbon, Portugal – 1 dompet kembali.

Dari studi kecil yang dilakukan Reader’s Digest, mereka telah menjatuhkan sekitar 19 dompet dan tiap kota mendapat jatah 12 dompet. Dompet ini sengaja dijatuhkan di pelbagai area publik seperti pusat perbelanjaan, tempat parkir, trotoar, dan masih banyak lagi lokasi lainnya.

Dari list di atas hanya ada satu negara Asia yakni India. Sayangnya tak ada satu pun wakil Asia Tenggara khususnya Indonesia. Apakah ini jadi pertanda jika kota-kota di Indonesia sama sekali tak miliki warga yang berperilaku jujur?







Sumber  :  eotika.blogspot.com
Senin, Oktober 28, 2013 | 0 komentar

Murtini tak pernah absen hadiri open house SBY selama 9 tahun

Open House Istana. ©2013 Merdeka.com



Kamis, 8 Agustus 2013,


amanahanaknegeri.com,- Selama sembilan tahun sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) duduksebagai orang nomor satu di negeri ini, Murtini (55 tahun) tak pernah absen untuk bertemu langsung dengan pemimpin pilihannya itu.

Perempuan yang berasal dari Pekanbaru, Riau ini selalu hadir setiap acara open house di Istana Negara. Bersama kedua koleganya, Murtini mengaku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu SBY di masa akhir jabatannya sebagai presiden.

Murtini adalah satu dari 10 penyandang dispabilitas yang beruntung dapat bersalaman secara langsung dengan SBY. "Saya ingin bertemu dengan Pak SBY, terakhir. Mau perpisahan," sahut Murtini di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/8).

Dia khawatir tahun depan tidak bisa lagi bertemu dengan SBY. Sebab, tahun depan merupakan pemilihan presiden. "Lebaran tahun depan, SBY tak akan lagi menjabat," ucapnya singkat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Murtini dan penyandang dispabilitas lainnya mendapatkan uang senilai Rp 200.000 sebagai sedekah dari SBY.

Murtini merupakan salah satu dispabel yang beruntung untuk dapat bersalaman dengan SBY. Selain dia, masih ada sekitar 800 penyandang dispabilitas lainnya yang ingin bertemu presiden dan sempat berkumpul di Monas.




Sumber :  merdeka.com
Kamis, Agustus 08, 2013 | 0 komentar

Si Penjaga Hikayat Aceh Itu Hanya Ingin Mobil Tua

T.A Sakti Ahli Hikayat Aceh, Sumber : Kompas.com



Kamis, 11 April 2013


Dengan mobil tua itu saya bisa berjualan hikayat di kota-kota kecil di hari pekan. Selain itu, saya juga bisa membacanya di sana.

 Sejarah adalah soal siapa yang berkuasa. Dan narasi-narasi besar biasanya berisi propaganda penguasa yang menggambarkan kemegahan dan keindahan semata. Teuku Abdullah gigih membangun narasi dari hikayat-hikayat dan naskah-naskah pinggiran yang selama ini kerap dilupakan.

Banyak kitab telah mengisahkan kebesaran Aceh masa lalu. Misalnya, dalam Kitab Bustanus Salatin atau Taman Para Raja yang ditulis Nuruddin Ar Raniry tahun 1636 disebutkan tentang Kesultanan Aceh seperti taman dunia karena saking megahnya. Era Kesultanan Iskandar Muda kerap disebut sebagai puncak kebesaran itu di mana pemerintahannya digambarkan makmur dan syariat agama dijalankan.

Namun, bagi Teuku Abdullah atau kerap dipanggil TA Sakti, masa lalu Aceh tidak sepenuhnya elok. ”Buku-buku sejarah, termasuk yang ditulis Ali Hasjmy—sejarawan Aceh—biasanya penuh puja-puji. Tetapi, sejarah Aceh ternyata tidak betul-betul indah,” katanya. ”Setidaknya itu yang saya baca dari beberapa hikayat.”

Kami menemui ahli hikayat Aceh ini di rumahnya yang bersahaja di lorong sempit di Tanjoeng Selamat, Darussalam, Banda Aceh, pada pengujung Februari 2013. Karpet tua yang melapisi ruang tamu dari semen, menurut dosen sejarah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, ini telah berumur 14 tahun. Tumpukan naskah tua dan beberapa kardus buku hikayat memenuhi ruangan.

Fisiknya rapuh. Kakinya yang pernah patah akibat kecelakaan membuatnya tertatih-tatih saat berjalan. ”Selama ini, saya kalau pergi ke mana-mana harus naik RBT (rakyat banting tulang) atau ojek,” katanya.

Namun, semangat dan kegigihan langsung terasa saat dia mulai bicara soal hikayat dan naskah-naskah lama Aceh. Sudah 21 tahun Sakti menggeluti hikayat dan mengalihaksarakannya dari huruf Arab ke Latin, lalu menerbitkannya.

Akhir hikayat

Sakti membiayai sendiri pencetakan hikayat. Biasanya dia mencetak 1.000 eksemplar per judul. Ongkos cetaknya Rp 1.100 per eksemplar dan dititipkan di toko buku seharga Rp 1.400 per eksemplar. ”Saya jual murah karena tujuannya untuk pelestarian hikayat,” katanya.

Toko buku biasanya memasarkan hikayat seharga Rp 3.000 per eksemplar. Walaupun murah, tetap saja pemasarannya seret. ”Biasanya saya rugi. Pernah saya taruh di delapan toko, tidak satu pun ada hasil,” katanya.

Masa keemasan hikayat memang sudah berakhir. ”Orang lebih suka menonton televisi,” katanya. ”Padahal, masyarakat Aceh akan kehilangan besar jika hikayat benar-benar hilang.”

Apa pentingnya hikayat?

Hikayat selama ini identik dengan sastra rakyat, ditulis oleh orang biasa atau kadang anonim. Tak hanya berupa puja-pujian terhadap penguasa, tambeh atau nasihat-nasihat agar berbuat baik, hikayat juga banyak berisi kehidupan rakyat jelata yang ditulis apa adanya.

Misalnya tentang Hikayat Rantau yang ditulis Leube Isa. Hikayat ini mengisahkan tentang kehidupan orang-orang yang merantau di Aceh Barat untuk membuka seneubok (perladangan) lada sekitar awal abad ke-19. Gaya bertutur hikayat ini mirip reportase yang menunjukkan penulisnya mengalaminya sendiri.

Bahkan, beberapa bagian mengolok-olok penulisnya sendiri, yang digambarkan merantau akibat disindir mertua agar jangan menganggur di rumah. Namun, kehidupan perantauan ternyata digambarkan begitu menyedihkan. Penulis menuturkan tentang para pekerja yang justru terlibat dengan perjudian, sabung ayam, dan memakai candu. Selain itu, juga disinggung praktik homoseksualitas dan juga kisah para leube—orang yang dianggap pintar soal agama—yang menjadi rentenir.

Beberapa naskah lain mengisahkan hal serupa. Setidaknya, ada empat naskah yang menggambarkan dekadensi moral di Aceh pada abad ke-19, yaitu Tuhfatul Ihkwan yang ditulis Syekh Abdussalam. Naskah berikutnya adalah Tambeh 95 (95 Tuntunan) oleh Syekh Jalaluddin. Selain itu, juga Kitab Akhbarul Karim (Kabar yang Mulia), dan Tambeh Tujoh Blah (17 Tuntunan).

Keempat naskah ini aslinya ditulis dalam aksara Arab Melayu/Jawi (Aceh: Jawoe), menggunakan bahasa Aceh dalam bentuk sanjak. Isinya tentang mewabahnya pemadat dan pemabuk, gemerlap dunia hiburan malam, hingga kaum bangsawan yang sengaja memelihara ”maling” demi memperkaya diri.

Setelah mengkaji empat naskah ini, saya membuat tulisan berjudul Syariat Islam di Aceh pada Abad ke-19. Saya kemudian mengirim naskah itu ke media-media di Aceh. Tapi, tak ada satu pun yang mau memuatnya. Padahal, tulisan-tulisan dengan tema lain, terutama yang menyinggung kebesaran Aceh, biasanya dimuat.

Apakah menyerah dengan realitas ini?

Selain sering mengirim tulisan di media cetak, belakangan saya juga membuat laman blog pribadi www.tambeh.worldpress.com. Sebagian besar isinya memuat tulisan-tulisan saya yang sudah pernah naik di media cetak. Tetapi, tulisan yang tidak bisa dimuat juga bisa saya taruh di sini, termasuk soal pelaksanaan syariat Islam di Aceh pada abad ke-19 itu. Selain bisa mengatasi soal tidak bisa naik di koran karena kebijakan redaksi, pemikiran saya bisa tersebar lebih luas. Saya berharap selain dibaca oleh mereka yang tinggal di Aceh, juga masyarakat di segala penjuru dunia.

Kapan jatuh hati kepada hikayat?

Saya tertarik hikayat sebenarnya sejak kecil. Waktu itu, hikayat masih kerap dibacakan di meunasah (mushala) di kampung saya. Selain itu, di rumah orangtua juga banyak tersimpan naskah warisan. Setiap pesta kenduri, hikayat didendangkan siang dan malam. Orang Aceh memiliki hikayat dan membacanya pada saat kelahiran hingga kematian. Saya biasanya mengikuti pembacaan ini sampai selesai.

Sekitar umur 13 tahun, saya melihat pentas Adnan PMTOH—penutur hikayat yang sangat terkenal di Aceh dan meninggal pada 2006—di Lapangan Kota Bakti, Sigli. Saya terpana melihatnya mendendangkan hikayat, ditambah dengan peragaan alat-alat sederhana, tetapi sangat hidup.

Sejak itu, saya semakin rajin membaca dan mengumpulkan hikayat. Tetapi, waktu itu belum terpikir untuk menulis ulang dalam bahasa Latin. Pada 1985, saya meneruskan sekolah ke Yogyakarta. Suatu hari, saya mengalami kecelakaan bermotor sehingga patah kaki. Saya pun kembali ke Aceh dan berobat di ahli patah tulang di Beutong, Aceh Barat.

Selama dua tahun, saya tinggal di rumah tabib yang terpencil. Tak ada listrik, tak ada televisi, bahkan radio. Untuk mengisi waktu, saya mendaras hikayat. Kebetulan, istri tabib ternyata sangat menyukai hikayat dan meminta saya membaca keras-keras agar dia turut mendengarkan. Setiap hari, dia minta dibacakan. Beberapa tetangga datang dan memenuhi halaman rumah tabib. Hikayat telah menjadi obat hati paling mujarab.

Mengapa mengalihaksarakan hikayat?

Awalnya kebetulan. Pada 1992, koran Serambi Indonesia membuat kolom tentang hikayat lama. Lalu saya coba kirim Hikayat Meudeuhak yang telah saya alihaksarakan. Saya kirim hikayat di koran itu sampai kolomnya ditutup pada akhir 1994. Dari 12 judul hikayat yang dimuat di koran itu, tujuh hasil alih aksara saya.

Setelah kolom itu tidak ada lagi, saya ketagihan mengalihaksarakan hikayat. Saya butuh pelarian karena tidak bisa bergiat di bidang lain setelah kaki patah. Saya merasa menjadi berguna setelah mengurus hikayat yang sebelumnya diabaikan, bahkan ada naskah yang sudah dibuang di tempat sampah saya ambil. Ternyata dengan hikayat itu saya bisa terlibat lagi dalam masyarakat, misalnya sering diundang dalam seminar-seminar budaya.

Selain itu, saya juga pernah mengalami satu masa ketika hikayat masih menjadi bagian penting dari hidup orang Aceh. Saat itu, hikayat masih dibaca dan ternyata memberikan banyak manfaat. Hidup saya juga banyak diwarnai oleh hikayat. Hikayat yang membuat saya bertahan menghadapi kerasnya hidup, terutama saat di rantau.

Namun, sekarang ternyata orang tidak lagi membaca hikayat. Bahkan, saat saya baca hikayat, anak saya sering meledek, peu ngeng-ngeng (ngapain bergumam-gumam) seperti orang minta sedekah saja. Banyak yang tidak bisa membaca dan akhirnya tidak bisa menikmati karena beraksara Arab. Karena itu, sangat penting untuk mengalihaksarakannya.

Kapan mulai mencetak sendiri hikayat?

Pada 16 April 1997 di halaman 3 harian Serambi Indonesia, saya membaca berita meninggalnya Syeh Rih Krueng Raya. Dia adalah penyair hikayat Aceh terkenal dan terakhir yang saya kenal. Saya salah satu pengagum beliau. Itulah yang menyentak dan menggerakkan saya untuk mencetak hikayat-hikayat yang telah saya alih aksarakan dari aksara Arab ke dalam huruf Latin.

Apakah cukup dengan mencetak hikayat lama?

Walaupun saya jual hikayat yang sudah saya alih aksarakan dengan harga murah, tetap saja penjualan buku hikayat itu sulit laku. Bahkan, kini sejumlah toko buku di Banda Aceh menolak saat dititipi buku hikayat dengan alasan tak ada lagi yang mau beli. Di pasar-pasar, penjualan buku hikayat sudah mati.

Saya sudah berupaya keras menghidupkannya, tetapi ternyata tidak gampang. Kalau pemerintah mendukung, misalnya memasukkan hikayat atau sastra Aceh dalam muatan lokal di sekolah-sekolah, mungkin situasinya akan lebih baik. Setidaknya hikayat tidak punah karena masih dipelajari di sekolah.

Masih adakah keinginan lain?

Sudah bertahun-tahun saya menjadi tauke hikayat, tetapi tetap miskin. Bukan kemiskinan yang meresahkan, melainkan nasib hikayat Aceh yang hampir punah yang membuat sedih. Saat ini, saya berdoa, ada rezeki dari Allah sehingga bisa membeli mobil tua agar bisa berjualan hikayat di kota-kota kecil di hari pekan. Selain itu, saya juga bisa membacanya di sana.

Itu cita-cita saya sebelum mati, tetapi ternyata banyak yang tidak setuju. Bahkan, beberapa kawan di pemerintahan mengatakan, kalau saya tetap keliling kampung berjualan dan membaca hikayat, itu akan merendahkan saya. Namun, saya tetap ingin mewujudkannya. Satu-satunya kendala adalah kondisi fisik dan keuangan.

* Diambil dari Harian Kompas edisi Minggu (7/4/2013) halaman 2, rubrik "Persona" dengan judul "TA Sakti Menjaga Hayat dengan Hikayat Aceh""

Sumber  : Kompas.com
Kamis, April 11, 2013 | 0 komentar

Kerjasama Indonesia-Malaysia bidang Kesejahteraan Sosial


Amanah Anak Negeri, Kuala Lumpur ( Malaysia )
Menteri Sosial Salim Segaf al Jufri tiba di Kuala Lumpur, Senin (18/12) siang, sebelum kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mensos disambut oleh Duta Besar RI untuk Malaysia, Herman Prayitno.

“Ini adalah pertemuan tahunan tingkat tinggi antara kedua negara. Salah satu agenda penting ialah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bidang kesejahteraan sosial dan pemberdayaan masyarakat,” ungkap Mensos. Mitra Kemensos RI adalah Kementerian Wanita, Keluarga dan Pemberdayaan Masyarakat, yang saat ini dijabat langsung oleh PM Moh. Najib Tun Razak. Karena Menteri Syahrizat Abdul Jalil mundur akibat dakwaan korupsi.


Sebenarnya Indonesia merencanakan kunjungan tahun depan, tapi karena PM Malaysia telah melakukan pertemuan di Lombok tahun 2011, maka tahun ini giliran Indonesia yang membalas kunjungan. “Jika tidak dikunjungi, maka pertemuan tahun 2012 bisa dianggap kosong. Padahal, agenda yang harus dibahas cukup banyak, antara lain peningkatan kerjasama ekonomi, masalah pertahanan/perbatasan kedua negara atau ketenagakerjaan,” ujar Dubes Herman Prayitno.
Termasuk isu terkini yang mencuat akibat pernyataan mantan Menteri Penerangan Malaysia, Zainuddin Maidin yang mengkritik kedekatan mantan Presiden B.J. Habibie dengan mantan Wakil Presiden Anwar Ibrahim. Presiden SBY menilai pernyataan negatif tersebut cukup mengganggu hubungan kedua negara karena Habibie adalah tokoh yang dihormati di Indonesia dan kancah internasional. Presiden SBY akan menanyakan hal itu langsung ke PM Najib.
Di luar kontroversi tersebut, Mensos Salim mengunjungi kelompok usaha Mat Salai Sdn. Bhd.  “Kelompok kami membina anak muda putus sekolah seperti anggota Mat Rempit (geng motor) dan mantan pecandu narkotika. Selain itu, juga ibu-ibu tunggal (single parents) dan ibu-ibu tinggal (bercerai) yang harus menafkahi keluarganya,” jelas Puan Maznah Muhammad kepada Mensos yang didampingi Sekjen Toto Utomo, Dirjen Linjamsos Andi Z.A. Dulung, dan Staf Khusus Agoes Kooshartoro.

Mensos terkesan, di Mat Salai anggota dilatih wirausaha membuat roti panggang dengan daging cincang berbumbu khas serta jus buah berbahan alami. Setiap alumni pelatihan diberi hibah modal kerja sebesar RM 5.000 (Rp 15 juta) berupa kios beroda dan bahan mentah. “Selama lima tahun kami sudah membina 1.500 outlet tersebar di seluruh negara bagian. Tiap anggota mendapat penghasilan tambahan rata-rata RM 3.000 per bulan, bisa lebih jika aktif mencari pembeli/pelanggan,” papar Maznah, sambil menegaskan dia sendiri memulai dari nol Ringgit.
Mensos membandingkan pemberdayaan ala Mat Salai dengan KUBE di Indonesia. “Modal kerjanya lebih besar. KUBE hanya Rp 20-30 juta per kelompok (terdiri 10 anggota) atau Rp 2 juta per anggota. Tapi, alternatif usaha KUBE lebih beragam, termasuk kuliner yang beraneka rasa. Keunggulan KUBE membangun kebersamaan di kalangan fakir miskin yang ingin memperbaiki nasibnya,” sahut Salim Segaf. Sementara itu, kelemahan yang harus diperbaiki dalam pengelolaan KUBE menyangkut aspek pendampingan dan pemantauan usaha, sehingga tingkat keberhasilan masih sulit diukur dan efektivitas pengentasan kemiskinan menuntut koordinasi dengan kementerian lain. Bahkan, pemberdayaan masyarakat miskin membutuhkan kerjasana dengan negara lain. (Media Center Biro Humas), Dikutip dari http://www.kemsos.go.id.

Rabu, Januari 16, 2013 | 0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.

Nasional

Lanjutkan Membaca »

Politik

Lanjutkan Membaca »

Opini

Lanjutkan Membaca »

Mancanegara

Lanjutkan Membaca »

Sorot Tokoh

Lanjutkan Membaca »

Kutipan

Setiap bentuk egoisme di kehidupan masyarakat akan menimbulkan konflik yang mendatangkan korban harta dan jiwa.

Oleh karena itu egoisme itulah yang harus ditolak -- egoisme agama, egoisme bangsa, egoisme etnis, egoisme suku, egoisme kekuasaan, egoisme harta.

Pidato Kebangsaan Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 yang melahirkan Pancasila, 1 Juni 2012, Gedung Nusantara IV, MPR/DPR, Jakarta.

Sumber dari : wapresri.go.id.

Lintas Riau

Lanjutkan Membaca »

Teknologi

Lanjutkan Membaca »

Pendidikan

Lanjutkan Membaca »

Kesehatan

Lanjutkan Membaca »

Olahraga

Lanjutkan Membaca »